12 Aku Sakit Karenamu, Gigi!

Friday, March 16, 2012
Brrrrr!! Brrr!!

Suara alarm dari handphoneku berbunyi nyaring, kutatap dilayarnya tertera reminder

"Selasa sore, kencan horor dengan si Ganteng!"

"Haduuuh, bertemu dengan dia lagi. Seharusnya bertemu dengan dia itu ditempat yang asyik, di sebuah resto sambil makan malam diiringi dengan musik classic, wooow seems like romantic dinner with him. Lah ini bakalan  ketemu dia di ruangan serba putih dengan alat bor yang membuat ngilu tiap kali dia mengoperasikannya menjadi backsound horor tiap bertemu dia" umpatku dalam hati.

"Melaaaa" panggil Bunda 

"Iyah Bund" 

"Kesini bentar Nak, bantuin Bunda dikit"

"Iyah Bund" jawabku lesu.

5 menit kemudian di kamar Bunda. Kotak berserakan dimana-mana, rupanya Bunda sedang sibuk packing. Kami memang akan pindah rumah dua minggu depan.

"Ada apa Bunda?"

"Ini, tolong bantu Bunda kemas barang-barang ini ya. Barang-barang kamu udah mulai dikumpulin juga kan? Kita harus mulai nyicil dari sekarang Nak, biar nanti angkutnya sekalian aja gak usah bolak-balik. Biar praktis gitu, Sayang" 

"Maaf Bunda, tapi itu kan masih dua minggu lagi Bund. Boleh gak sekarang ini Mela istirahat di kamar dulu" pintaku memelas.

"Loh, kenapa? Tumbennya kamu lemas dan gak bersemangat gini membicarakan tentang pindahan, bukannya kemarin-kemarin juga kamu yang paling antusias tentang kepindahan kita ini" masih sambil berbenah sana sini masukin barang-barang ke dalam kotak yang sudah dilabeli, seperti mengklasifikasikan benda gitu deh.

"Iyah sih Bund, Mela semangat kok. Tapi untuk hari ini aja ya Bund" sekali lagi aku mengiba ke Bunda.

Bunda beranjak dan memperhatikanku yang terlihat murung.

"Kamu kenapa sih Mel? Kamu sedih ya mau pindah? Itu muka kamu beda gitu? Kamu sakit ya Nak?" tanyanya bertubi-tubi.

"Iyah Bund, hari ini Mela ada janji ama si Ganteng, Bunda tahu kan maksud Mela siapa? Mela takut nih Bund. Ini udah yang ketiga kalinya harus ketemu dia dalam kurun waktu sebulan ini" jelasku pada Bunda. 

 "Loh, takut kenapa? Kamu harus ketemu dia, biar derita kamu tuh gak berlarut-larut. Emang kamu mau terus-terus seperti ini?"

"Yah nggak dunk Bund. Kalau boleh minta sih Mela juga gak mau menderita begini Bund"

"Ya sudah kalau gitu kamu gak usah takut lagi dunk. Emangnya kenapa sih dengan dokter itu? Bukannya kamu suka tuh ketemu dia, kan dia ganteng" goda Bunda.

"Iyah deh Bunda, makasih ya Bundaku tersayaaaang"

"Iyah Mela-ku yang manja. Sana gih siap-siap ketemu si Ganteng-mu itu"  goda Bunda sekali lagi.

Sejam kemudian aku sudah siap berangkat. 

"Bunda, Mela berangkat ya. Doain semuanya lancar ya Bun, takut banget nih Bund. Bunda juga sih gak mau nemenin Mela, kalau ada Bunda kan Mela bisa kuat"

"Iyah Sayang, Bunda doain semua berjalan lancar kok. Janganlah Mela kan udah besar lagian kalau Bunda ikut ntar ganggu kencan kamu lagi" lagi-lagi Bunda menggodaku. 

"Oke deh, Mela pergi dulu ya Bundaku sayang" sambil mengecup pipi Bunda.

"Take care, My Dear

Sejam kemudian akhirnya sampailah aku di depan sebuah klinik bertuliskan nama sang Dokter Ganteng itu: drg. FADLI

"Sore Mela. Apa kabar hari ini? Udah siap kan untuk operasi kecil kamu?" sapa sang Dokter Ganteng.

"Sore juga Dokter. Hmm, seperti yang Dokter lihat. Yah, mau gak mau Dokter. Saya harus siap. Saya capek Dokter, udah gak kuat lagi"

"Oke, bagus kalau gitu"

Dengan gesit dia pun memulai operasi kecil terhadap gigiku. Aku tak berani membuka mata sejak duduk 'di kursi panas', aku tak mau melihat peralatan apa saja yang dia masukkan ke dalam gigiku. Pokoknya aku serahkan semuanya pada drg. Fadli. Toh katanya tinggal selangkah lagi maka permasalahanku beres, gigiku yang impaksi akan segera diangkatnya dan semua akan berjalan normal lagi.

"Udah Mel, gak usah tidur terus. Ayo buka mata kamu, semua udah beres sekarang" ucap drg. Fadli dua jam kemudian. 

"Nah, cepet kan? Coba saja dari dulu kamu mau memeriksakan gigi kamu, kamu gak bakalan menderita seperti ini"

"Haah? Su-da-h ya Dok?" jawabku terbata-bata karena masih merasa gusi ini kaku karena pengaruh jahitan pada gigi dan juga obat bius tadi. 

"Iyah sudah Mel, semua sudah beres. Ini saya tuliskan resep, cuma antibiotik dan vitamin aja kok. Sekalian ini juga untuk kamu" sambil menyodorkan dua lembar kertas berbeda. 

"Terima kasih, Dok"

"Sama-sama, Mela"

Sebelum pulang aku mampir di apotik dulu, menebus resep dari drg. Fadli. Tapi aku kaget kenapa kertas resep yang satunya berbeda. 

"Minggu depan, aku jemput ya Mel. Gigi kamu udah bisa diajak makan mie ramen kok itu"

Haaa? Apa ini? Ajakan kencankah? Huaaa, senang terharu campur aduk. Aku menjerit dalam hati. Aku sakit karenamu, Gigi! Tapi terimakasih juga karena kamu aku bakalan kencan dengan Dokter Ganteng, semoga ini bukan kencan horor lagi. 


*****

4 Rumahku, Itu Kamu

Tuesday, February 14, 2012

“Fik, ini sudah brosur ketujuh loh yang aku sodorin ke kamu. Tipe yang gimana lagi sih yang kamu cari?” Suara Seto membuyarkan lamunan sahabatnya -Fika- sore itu.

“Tipe kayak kamu” sambil nyengir Fika menjawab.

“Yeee, ditanya serius malah jawabnya ngelantur kayak gitu. Lagi ngelamunin apa sih Fik? Jangan keseringan ngelamun deh, ntar kesambet loh. Gak takut apa?”

“Nggak, selagi ada kamu ngapain takut?”

“Yeee, ni anak bener-bener kesambet kali? Atau jangan-jangan kamu udah tertular virus Raja gombal kali ya? Mau jadi Ratu gombal ya Fik?” sambil mengacak rambut Fika.

“Eh apa? Apa tadi? Kamu tadi bilang apa? Maaf, maaf lagi gak fokus, heheheh. Kamu bilang Ratu gombal? Huuuu enak aja, ogah ah disamain kayak gitu” “Iyaaah deh Nona Fika, maaf. Jangan sewot gitu dunk. Makanya kalau diajak ngomong tuh dengerin dong Nooon”

“Heheh, iyah deh Pak Seto yang baik hati. Mana tadi, katanya bawa brosur baru. Dapat dari mana lagi kamu? Rajin benar ya. Atau jangan-jangan kamu udah jadi developer yah?”

“Nih, silahkan dilihat. Bingung deh mau yang kayak gimana lagi sih yang kamu cari? Itu tadi aku dapat dari seorang teman, kebetulan kantornya lagi pameran. Ya sudah gih dilihat dulu” sambil menyodorkan brosur ke Fika.

“Fik, kalau kataku sih ya apapun tipenya itu bisa dirombak Fik, bisa direnovasi, bisa diredesign sesuka kamu, Yang terpenting kan fungsinya -sebagai tempat tinggal. Jadi ngapain lagi sih kamu harus repot-repot cari kesana kemari?”

“Oh, jadi merasa direpotin nih? Yaudah, gak apa-apa kok. Maaf ya udah ngerepotin kamu”

“Eh kok jadi ngambek gini sih? Kamu lagi dapet ya jadi sensi kayak gini? Maaf deh, serius.”

“Gak tahu” berlalu meninggalkan Seto dan brosur yang baru dibawanya.

__________________________________________________________


Klik kluk. Bunyi handphone Seto, tanda 1 pesan masuk.

1 new message from Fika.
 “Kalau lagi gak repot dan gak ganggu, tolong baca emailnya ya”
Tanpa berfikir panjang Seto pun menyalakan laptop - mengecek email seperti yang diminta Fika, sahabatnya.

Dear Seto,

Makasih ya untuk semua brosur yang udah kamu kasih ke aku. Sebenarnya aku gak butuh itu semua, itu hanya kamuflase saja. Aku setuju ama kamu, rumah itu fungsinya sebagai tempat tinggal. Makanya aku udah gak butuh brosur lagi! Toh sebenarnya aku udah nemu rumah yang tepat, rumah yang gak perlu dirombak, direnovasi atau bahkan diredesign, aku udah nemu loh yang paket lengkap itu. Dan aku berharap aku bisa segera menempatinya, aku udah pengen merasa hangat dan aman berada disana.

Aku yakin kamu pasti penasaran ingin tahu kan?

Yaudah deh, apa sih yang gak buat sahabat seperti kamu. Tapi kamu harus janji ya, kamu jangan ketawa apalagi sampai pingsan karena ini, aku gak mau semuanya jadi berantakan loh. Janji?

Kamu udah siap kan? Aku bilang sekarang ya.

……

……

……

Rumahku, Itu Kamu.



Cheers,

Fika ♥
___________________

Jumlah kata: 444

Diikutkan dalam tantangan yang diadakan Non Inge.

Untuk infonya silah baca link berikut:

http://www.facebook.com/notes/non-inge/tantangan-/10150509126945773